Qurban Terbaik


Sent by: Ust. M. Taufik Zoelkifli

Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban.
Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku,
dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan. Suasana di tempat itu
sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu
berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut
menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul
Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak
dini tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.

Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih
hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada
seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar
melebihi kambing-kambing di sekitarnya.

" Berapa harga kambing yang itu pak ?" ujarku menunjuk kambing coklat
tersebut.

" Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta
rupiah tidak kurang" kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling
sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.

" Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.

" Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal" si
pedagang bertahan.

" Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran pertama

" Maaf pak, masih jauh." ujarnya cuek.

Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah
berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.

" Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?" kataku

" Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek

" Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?"
ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

" Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa
datang ke sini sendiri. Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan
mobil bahan bakarnya bukan rumput" kata si pedagang meledek.

Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan
harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku
alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan
bila ada perbedaan harga lima ratus ribu. Kebetulan dari tempat
penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil. Mengganti ban
belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan
tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.

" Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" kataku kemudian

" Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu
rupiah" katanya

Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek
menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian
"korpri" yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.

" Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" katanya kagum

" Dua juta tidak kurang tidak lebih kek." kata si pedagang setengah
malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.

" Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?" kata si kakek
dalam bahasa Tegalan

" bisa di tawar-kan ya mas ?" lanjutnya mencoba negosiasi juga.

" Cari kambing yang lain aja kek.. " si pedagang terlihat semakin malas
meladeni.

" Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki
(Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini)

Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas." katanya tetap
bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya.
Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam
belas lembar uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima puluh
ribuan dikeluarkan dari dalamnya.

" Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah
ya mas?" lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.

Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya
sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima
uang yang disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan lembar
demi lembar uang itu.

" Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si pedagang mengeluarkan
selembar lima puluh ribuan

" Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si
kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih

" Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yg cukup jujur
memberikan lima puluh ribu ke kakek

" mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan kakek berubah
menjadi mbah)

" Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa
ditabung lagi)" kata si kakek sambil menerimanya

" tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat
itu ya), sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid
Baiturrohman,

takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe
Pemda Pasir Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah
anak-anak sudah tahu)."

Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di
sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di
sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari mobil milikku.
Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya
tetap dengan semangat.

Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya
berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku.
Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol,
sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya.
Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap
bulan oleh si kakek.
Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang
berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti
hanya petani dan para pensiunan pegawai rendahan.
Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku
sebagai ……….
Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi.
Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja
cukup membeli seekor kambing Mega Super..
Yang sanggup mengkoleksi "raket" hanya untuk olah-raga seminggu sekali
Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus
Tapi apa yang aku pikirkan?
Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku
yang harganya tidak lebih dari service rutin ku, kendaraanku di dunia
fana. Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir
seribu kali saat membelinya.

Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati
hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai
menSyukuri nikmatMu.

Berbuka bersama ketua MPR (Dikisahkan oleh Ust. Nabiel Almusawa) Walau kejadiannya sudah lama. berikut kisah dari ustadz kita tercinta Habib Nabiel A


Berbuka bersama ketua MPR (Dikisahkan oleh Ust.
Nabiel Almusawa)

Walau kejadiannya sudah lama. berikut kisah dari ustadz kita tercinta
Habib Nabiel Almusawa sewaktu berbuka dengan Ust HNW...

( Ustadz nabiel, ini romadhan kapan ya ? hehe )

berikut cerita beliau :

BismiLLAAHir RAHMAANir RAHIIM,

Beberapa hari yg lalu ana
berkesempatan untuk ikut dalam acara buka bersama dengan Ketua MPR-RI,
DR Muhammad Hidayat Nurwahid, MA di rumah dinasnya comp. Widya Chandra
dg beberapa ikhwah..

Ketika ana masuk ke rumah dinas beliau tsb, maka dalam hati ana bergumam
sendiri
: Alangkah sederhananya isi rumah ini.. Ana melihat lagi dg
teliti,meja, kursi2, asesori yg ada, hiasan di dinding.. SubhanaLLAH,
lebih sederhana dari rumah seorang camat sekalipun..

Ketika ana masuk ke rumah tsb ana memandang ke sekeliling, kebetulan
ada disana Ketua DPR Agung Laksono, Wk Ketua MPR A.M Fatwa, Menteri
Agama, dan sejumlah Menteri dari PKS (Mentan & Menpera) serta
anggota DPR-RI, serta pejabat2 lainnya..

Lagi2 ana bergumam : Alangkah sederhananya pakaian beliau, tidak ada
gelang dan cincin (seperti yg dipakai teman2 pejabat yg lain disana)..
Ternyata beliau masih ustaz Hidayat yg ana kenal dulu, yg membimbing
tesis S2
ana dg judul : Islam & Perubahan Sosial (kasus di Pesantren PERSIS
Tarogong
Garut)..

Terkenang kembali saat2 masa bimbingan penulisan tesis tsb, dimana ana
pernah diminta datang malam hari setelah seharian aktifitas penuh
beliau sebagai Presiden PKS, dan ada 10 orang tamu yg menunggu ingin
bertemu.. Ana kebagian yg terakhir, ditengah segala kelelahannya beliau
masih
menyapa ana dg senyum : MAA MAADZA MASAA'ILU YA NABIIL..?

Lalu
ana pandang kembali wajah beliau, kelihatan rambut yg makin memutih,
beliau bolak-balik menerima tamu, saat berbuka beliau hanya sempat
sebentar makan kurma & air, karena setelah beliau memimpin shalat magrib
terus banyak tokoh yg berdatangan, ba'da isya & tarawih kami semua
menyantap
makanan, tapi beliau menerima antrian wartawan dalam & luar negeri yg
ingin
wawancara..

Tdk
terasa airmata ana menetes, alangkah jauhnya ya ALLAH jihad ana
dibandingkan dg beliau, ana masih punya kesempatan bercanda dg keluarga,
membaca kitab dsb, sementara beliau benar2 sudah kehilangan privasi
sebagai pejabat publik, sementara beliaupun lebih berat ujian
kesabarannya
untuk terus konsisten dlm kebenaran dan membela rakyat..

Tidaklah
yg disebut istiqamah itu orang yg bisa istiqamah dlm keadaan di tengah2
berbagai kitab Fiqh dan Hadits seperti ana yg lemah ini.. Adapun yg
disebut istiqamah adalah orang yg mampu tetap konsisten ditengah
berbagai kemewahan, kesenangan, keburukan, suap-menyuap dan lingkungan
yg amat jahat
& menipu..

Ketika keluar dari rumah beliau
ana melihat beberapa rumah diseberang yg mewah bagaikan hotel dg
asesori lampu2 jalan yg mahal dan beberapa buah mobil mewah, lalu ana
bertanya pd supir DR Hidayat : Rumah siapa saja yg diseberang itu? Maka
jawabnya : Oh, itu rumah pak Fulan dan pak Fulan Menteri dari beberapa
partai besar.. Dalam hati ana berkata : AlhamduliLLAH bukan menteri
PKS..

Saat pulang ana menyempatkan bertanya pd ustaz Hidayat : Ustaz,apakah
nomor
HP
antum masih yg dulu? Jawab beliau : Na'am ya akhi,masih yg
dulu,tafadhal antum SMS saja ke ana, cuma afwan kalo jawabannya bisa
beberapa hari atau bahkan beberapa minggu, maklum SMS yg masuk tiap
hari ratusan ke ana..

Kembali airmata ana menetes, alangkah beratnya cobaan beliau & khidmah
beliau untuk ummat ini, benarlah nabi SAW yg bersabda bahwa orang
pertama yg
dinaungi oleh ALLAH SWT di Hari Kiamat nanti adalah Pemimpin yg
Adil..
Sambil
berjalan pulang ana berdoa : Ya ALLAH, semoga beliau dijadikan pemimpin
yg adil & dipanjangkan umur serta diberikan kemudahan dlm memimpin
negara ini.. Aaamiin ya RABB..

Ust. Nabil Almusawa